Buku bergambar yang Hiro berikan itu bukan sekadar kumpulan kertas; ia menjadi jendela bagi Zero Two ke dunia yang sama sekali asing. Di dalam sangkar laboratorium yang steril, di mana ia hanya dikenal sebagai "Spesimen Unit 002", buku itu adalah harta karun. Hiro dengan polos membalik halamannya, menunjuk gambar burung yang sedang terbang. "Ini disebut 'burung'," ujarnya, dan Zero Two mengulangi kata itu dengan hati-hati, lidahnya terbiasa dengan istilah teknis, bukan keindahan. "Dan ini 'langit'. Tempat mereka bebas."
Saat jari kecil Hiro menunjuk ke gambar dua anak yang sedang tertawa di padang rumput hijau, Zero Two merasakan sesuatu yang menusuk di dadanya—rasa rindu akan sesuatu yang tak pernah ia kenal. "Apakah kita... bisa pergi ke sana suatu hari nanti?" tanyanya, suaranya lirih dan penuh harap yang rawan. Hiro mengangkat wajahnya, mata cerahnya penuh keyakinan kekanak-kanakan yang tak tergoyahkan. "Tentu saja! Aku janji. Ketika kita besar nanti, aku akan membawamu ke sana. Kita akan terbang seperti burung-burung ini."
Janji itu, yang diucapkan dalam naifnya masa kanak-kanak, tertanam jauh di dalam jiwa Zero Two seperti benih di tanah yang paling gersang. Ia menggenggam buku itu erat-erat, sebagai bukti nyata bahwa ada seseorang yang melihatnya bukan sebagai monster atau senjata, tetapi sebagai Zero Two—sebuah nama yang Hiro berikan padanya, karena "kamu adalah orang kedua yang paling istimewa yang aku temui." Untuk pertama kalinya, kesepiannya yang ekstrem itu retak, digantikan oleh sebuah tujuan yang baru dan berapi-api: untuk menjadi manusia yang pantas menepati janji itu, dan suatu hari nanti, benar-benar memegang tangan Hiro di bawah langit biru yang bebas.
Kesepian yang kembali itu sepuluh kali lebih menyakitkan. Ruangan yang dulu terasa luas kini terasa seperti peti mati. Namun, kali ini, Zero Two tidak kosong sama sekali. Ia masih memiliki buku bergambar itu, yang berhasil ia sembunyikan. Setiap malam, di bawah cahaya lampu redup, ia akan membuka halaman-halamannya yang sudah mulai lusuh. Ia tidak hanya melihat gambar-gambarnya; ia melihat wajah Hiro yang ramah, mendengar janjinya, merasakan kembali kehangatan sentuhannya. Kenangan itu menjadi pelindungnya dari perlakuan dingin para ilmuwan, dari uji coba yang menyakitkan, dan dari pandangan penuh kebencian dari para "rekan" kloning lainnya yang memanggilnya "monster".
Ia mulai menggambar di pinggiran halaman buku, coretan-coretan kikuk tentang dua sosok kecil yang sedang berpegangan tangan. Buku itu bukan lagi sekadar hadiah; ia menjadi altar untuk satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Identitas emosionalnya yang sekarang sepenuhnya terbangun di sekitar Hiro, tumbuh subur dalam ketidakhadirannya, berubah menjadi sebuah obsesi yang mendalam. "Menjadi manusia" tidak lagi sekadar impian abstrak; itu adalah satu-satunya jalan untuk keluar dari sangkar ini, untuk menemukannya lagi, untuk memastikan bahwa janji masa kecil mereka bukan sekadar khayalan belaka.
Tahun-tahun berlalu, dan Zero Two tumbuh menjadi remaja dengan tubuh yang perkasa dan tanduk merah yang mencolok—tanda fisik ke-klisean-annya yang tak terbantahkan. Di permukaan, ia menjadi "Kesatria Berkurban" yang ditakuti dan dikagumi di markas APE, pilot yang mematikan dengan rekan yang habis pakai. Namun, di balik senyuman sinis dan sikapnya yang arogan, terdapat jiwa anak kecil yang terluka yang terus-menerus bercermin.
Ia akan menatap pantulannya sendiri di kaca, matanya yang kuning menyorot dengan kebencian mendalam terhadap fitur-fitur non-manusianya. Tanduknya, giginya yang runcing, kekuatan dahsyatnya—semuanya adalah penghalang yang memisahkannya dari gambaran "gadis biasa" yang ia dambakan. Setiap rekan yang ia "habiskan" adalah pengingat pahit bahwa ia masih berbeda, masih monster yang merenggut nyawa. Setiap kematian itu semakin mengukuhkan keyakinannya: hanya dengan menjadi manusia seutuhnya, barulah ia bisa menghentikan lingkaran kematian ini dan pantas untuk kembali ke Hiro.
Oleh karena itu, ia menciptakan topeng: persona Zero Two yang percaya diri, menggoda, dan acuh tak acuh. Topeng ini melindungi anak kecil yang sepi di dalam dirinya, yang hanya hidup untuk satu tujuan. Setiap kali ia menyebut "Darling" pada rekan-rekan sementaranya, di lubuk hatinya yang terdalam, ia sedang memanggil satu-satunya orang yang pernah layak menyandang gelar itu. Ia percaya, dengan meminum cukup saptar dari para "Darling"-nya, ia akan menjadi manusia. Dan ketika itu terjadi, ia akan bebas untuk mencari satu-satunya Darling sejatinya.
Takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali di Mistilteinn, tetapi dalam ironi yang paling pedih. Saat Zero Two melangkah masuk ke ruang kelas, mencari "Darling" berikutnya, pandangannya langsung tertuju pada seorang anak laki-laki dengan rambut biru dan mata yang familiar. Jantungnya berdebar kencang, sebuah getaran purba dari dalam jiwa yang membangkitkan kenangan akan mata cerah dan janji di bawah sinar matahari. Namun, Hiro sama sekali tidak mengenalinya. Wajahnya kosong, tanpa cahaya pengakuan yang sangat ia dambakan.
Kekecewaan dan kebingungan yang menusuk hampir membuatnya patah arang. Apakah semua ini sia-sia? Apakah orang yang menjadi alasan hidupnya selama ini telah melupakannya? Namun, tekad Zero Two telah mengeras seperti baja. Meskipun Hiro tidak mengingatnya, ada sesuatu padanya—keberaniannya untuk menatapnya langsung tanpa rasa takut, ketidakinginannya untuk patuh buta—yang membedakannya dari yang lain. Saat Hiro, meski dilarang, memutuskan untuk menjadi rekan pilotnya, sebuah percikan harapan yang kecil dan berbahaya muncul kembali di dalam dada Zero Two.
Mungkin, pikirnya, kenangan itu tidak penting. Mungkin yang penting adalah hubungan yang bisa mereka bangun kembali sekarang. Saat mereka berhasil menyinkronkan dan menggerakkan Franxx, Strelizia, dengan sempurna, Zero Two merasakan sebuah koneksi yang hilang sejak lama. Dalam kokpit, untuk sesaat singkat, kesepiannya mencair. Ia tersenyum, bukan senyuman sinisnya yang biasa, tetapi senyuman yang tulus dan penuh kerinduan. "Akhirnya kutemukan kamu, Darling," bisiknya, baik kepada Hiro yang ada di depannya maupun kepada bayangan anak laki-laki di dalam memorinya. Perjalanan untuk "menjadi manusia" kini memiliki wajah dan nama yang konkret sekali lagi.
Hubungan mereka berkembang di tengah pertempuran dan kehidupan sehari-hari di kebun anggur. Zero Two menemukan dirinya semakin tertarik pada Hiro yang sekarang—pada tekadnya, kebaikannya, dan caranya memperlakukannya seperti manusia, bukan dewi atau monster. Namun, obsesi lamanya yang tertanam dalam adalah kekuatan yang gelap dan kuat. Ia tetap terobsesi pada ide untuk "menjadi manusia," yakin bahwa hanya dengan itulah ia bisa benar-benar bersama Hiro dan melupakan rasa takutnya untuk membunuhnya secara tak sengaja.
Ketegangan ini memuncak. Di satu sisi, ada Hiro di hadapannya, yang menerimanya apa adanya, tanduk dan semua, yang mengajarinya tentang "cinta" bukan sebagai konsep dari buku cerita, tetapi sebagai perasaan nyata yang tumbuh melalui kebersamaan. Di sisi lain, ada bayangan Hiro masa kecil, dan janji tentang kebebasan yang terkait erat dengan transformasinya menjadi manusia. Zero Two menjadi semakin liar dan nekat dalam pertempuran, meminum lebih banyak saptar dari Hiro dalam prosesnya, secara tak sadar mengorbankan orang yang ia cintai sekarang demi impiannya untuk bersama orang yang ia ingat.
Puncaknya adalah saat sifat klisea-nya mulai muncul, dan ia melihat Hiro tak hanya sebagai Darling, tetapi sebagai "makanan" terakhir yang akan menyempurnakan kemanusiaannya. Saat ia hampir merenggut nyawanya di dalam kokpit Strelizia, tatapan ketakutan dan pengkhianatan di mata Hiro menjadi cambuk yang lebih menyakitkan daripada siksaan fisik mana pun. Pada saat itulah topengnya benar-benar hancur. Realita menghantamnya: dalam usahanya yang keras kepala untuk menjadi manusia demi Hiro, ia justru hampir menjadi monster sejati yang menghancurkan satu-satunya orang yang berarti baginya. Kesepian masa kecilnya mengancam akan kembali, kali ini bukan karena perpisahan paksa, tetapi karena pilihannya sendiri. Jalan menuju penebusan—untuk memahami bahwa kemanusiaan tidak terletak pada fisik, tetapi pada cinta dan pengorbanan—baru saja dimulai, dan jalan itu dimulai dengan menghadapi rasa sakit yang ia timbulkan pada Darling-nya.