Sel selama bertahun-tahun bukanlah dinding yang dingin, melainkan ruang observasi steril berlapis kaca tebal. Di situlah "dia" tumbuh. Para ilmuwan menyebutnya dengan kode: "Zero Two". Bagi mereka, dia adalah fenomena, sebuah spesimen, kunci untuk memahami Klaxosaurus dan senjata potensial. Sejak kecil, tubuhnya dipantau setiap detik, darah birunya diambil sampelnya berkali-kali, dan tanduk merah kecilnya yang mulai tumbuh diukur dengan teliti. Dia tidak pernah merasakan pelukan, hanya sentuhan sarung tangan lateks. Suara yang didengarnya bukan lagu pengantar tidur, tetapi diskusi analitis tentang daya tahan fisiknya, kadar APEX dalam darahnya, dan potensi bahayanya. Mereka mengajarinya bahasa, tetapi hanya untuk memahami perintah dan laporan. Mereka memberinya makan makanan bergizi, tetapi seperti memberi bahan bakar pada mesin. Dalam cermin satu arah ruang observasi itu, Zero Two belajar satu hal: bahwa dirinya adalah "bukan manusia". Dia adalah monster yang berguna, dan nilai satu-satunya terletak pada kemampuannya yang aneh.
Perlakuan sebagai benda membentuk kepribadiannya seperti besi yang ditempa. Zero Two kecil sempat meraih tangan seorang penjaga yang tanpa sarung tangan, matanya polos penuh harapan. Tanggapan yang didapatnya adalah ketakutan dan pukulan. Darah biru yang menetes dari bibirnya membuat penjaga itu semakin histeris, berteriak "monster!". Sejak saat itu, senyuman nakal muncul di bibirnya. Jika mereka menganggapnya monster, dia akan memainkan peran itu. Dia mengintimidasi para peneliti dengan tatapan hijau tajamnya, terkadang dengan sengaja melukai diri sendiri hanya untuk melihat mereka panik karena kehilangan "spesimen berharga". Kebencian menjadi tamengnya, kesendirian menjadi bentengnya. Dia menyadari bahwa selama dia ditakuti, tidak ada yang bisa menyentuhnya dengan mudah. Rasa sakit karena diasingkan berubah menjadi kesombongan yang dingin. Di matanya yang hijau, tidak ada lagi kehangatan manusia, hanya sikap acuh tak acuh dan cemoohan terhadap dunia yang menolaknya. Baginya, manusia sama eksploitatifnya dengan Klaxosaurus, atau bahkan lebih.
Ketika tubuhnya mulai dewasa, nilai militernya benar-benar tereksploitasi. Mereka memberinya sebuah Franxx—robot raksasa yang hanya bisa dijalankan oleh pasangan pria-wanita. Namun, Zero Two berbeda. Karena darah Klaxosaur-nya, dia bisa mengendalikan mesin itu sendirian, atau lebih tepatnya, dengan "mengonsumsi" pasangannya. Para pilot pria yang dipasangkan dengannya, disebut "stamen", akan habis tenaga hidupnya setelah tiga kali penerbangan dan mati. Berita ini dengan cepat tersebar di pangkalan. Zero Two mendapat julukan baru: "Pembunuh Pasangan". Setiap kali melihat ketakutan dan keputusasaan di mata "pasangan" sementaranya, senyuman di bibir Zero Two semakin lebar, namun hatinya semakin kosong. Setiap kematian itu semakin mengukuhkan takdirnya sebagai monster. Dia tidak lagi berharap untuk dipahami; dunia ini hanyalah tempat berburu. Terbang dan bertarung adalah satu-satunya cara baginya untuk "ada", meskipun itu berarti terus mengukuhkan jalan iblis yang dipaksakan oleh orang lain padanya.
Di balik topeng "pembunuh" yang dingin dan tak tergoyahkan, sebenarnya tersimpan impian yang sangat manusiawi: menjadi manusia seutuhnya. Ini adalah kerinduan terdalam yang bahkan tidak berani diakuinya sendiri. Darah biru dan tanduknya adalah kutukan yang tak terelakkan, tetapi dalam hatinya, ada keinginan untuk dicintai, untuk disentuh dengan hangat tanpa rasa takut, untuk disebut "bukan monster". Dia sering melamun di selnya, menatap langit semu di langit-langit, membayangkan seperti apa rasanya berjalan di bawah matahari yang hangat, tertawa dengan bebas, dan memegang tangan seseorang—tanpa harus merenggut nyawa orang itu. Namun, impian ini cepat digantikan oleh sinisme. Bagaimana mungkin monster menjadi manusia? Itu hanyalah fatamorgana yang naif. Jadi, dia mengubur impiannya sangat dalam, melindunginya dengan duri-duri kebencian, seolah-olah dengan begitu, impian itu tidak akan pernah terluka.
Hingga suatu hari, dia bertemu dengan Hiro, seorang anak laki-laki yang juga ditolak karena tidak bisa menjadi pilot. Berbeda dengan orang lain, Hiro tidak lari ketakutan saat melihat tanduk dan mata anehnya. Dia bahkan berkata, "Akhirnya kutemu kau," seolah-olah telah mencarinya lama. Saat terjadi insiden dan mereka secara tidak sengaja memasuki kokpit Franxx yang sama, keajaiban terjadi. Hiro tidak mati seperti "stamen" sebelumnya; dia bisa bertahan. Di dalam kokpit yang sempit, dengan tubuh mereka terhubung, untuk pertama kalinya Zero Two merasakan "keterhubungan" yang bukan tentang penghancuran, melainkan penyatuan. Tatapan Hiro yang tulus menembus lapisan kebencian dan kesepian yang selama melindunginya. Sebuah getaran yang lama tertahan muncul di hatinya. Mungkinkah ada seseorang yang tidak menganggapnya sebagai monster? Mungkinkah ada seseorang yang melihatnya sebagai "Zero Two", sebagai seorang individu?
Pertemuan dengan Hiro menjadi titik balik dalam hidup Zero Two. Keinginannya yang lama terpendam untuk "menjadi manusia" kembali menguat, tetapi kali ini, disertai dengan keberanian yang baru. Dia mulai bertanya-tanya, apakah menjadi manusia berarti kehilangan tanduk dan darah birunya? Ataukah, menjadi manusia adalah tentang memiliki ikatan, memahami cinta, dan memiliki tempat untuk kembali? Bersama Hiro dan Skuadron 13, dia perlahan mengalami kehidupan "manusiawi" yang tidak pernah dia rasakan: makan bersama, bertengkar, melindungi satu sama lain. Dia mulai menyadari bahwa tubuh hibridanya bukanlah satu-satunya penentu identitasnya. Nilai dirinya bukan lagi berasal dari kegunaannya sebagai senjata, melainkan dari keinginannya untuk melindungi orang yang dicintainya. Zero Two perlahan merobek label "monster" yang diberikan dunia padanya, dan dengan berani mengejar identitas barunya: sebagai diri sendiri, sebagai partner Hiro, dan sebagai bagian dari sesuatu yang disebut "keluarga". Perjalanan panjang dari objek menjadi subjek ini penuh dengan rasa sakit dan keraguan, tetapi untuk pertama kalinya, dia tidak berjalan sendirian.