Dinginnya kokpit Strelizia bukan hanya dari logam dan kabel. Suhu paling beku berasal dari hati Zero Two sendiri setiap kali ia memasang antarmuka koneksi. Di seberangnya, seorang pilot laki-laki muda—yang keenam, atau mungkin ketujuh?—tampak gugup sekaligus bangga bisa dipasangkan dengan "Kesatria Berkurban" yang legendaris. Zero Two hanya menyunggingkan senyum tipis, mata kuningnya tak berkedip. Saat sistem Franxx hidup, ia bisa merasakan aliran data, emosi, dan kehidupan partner-nya menyatu dengannya. Kemudian, ia mulai menarik. Bukan hanya energi mesin, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih vital. Darah Klaxosaur-nya yang perkasa, panas dan liar, mulai melahap keberadaan manusia partner itu bagai akar yang haus di tanah tandus. Awalnya, sang partner akan merasa luar biasa, penuh kekuatan, seolah bisa mencapai langit. Itu adalah euforia sebelum kehancuran. Lalu, batuk-batuk kecil dimulai. Kulit pucat. Kerutan halus di sudut mata. Zero Two mengamatinya dengan dingin. Ia tahu pola ini. Ia adalah ahli dalam pola kematian ini. "Tetaplah fokus, Darling," bisiknya, manis namun hampa, sambil terus menarik lebih dalam lagi. Mereka semua adalah bahan bakar. Bahan bakar bagi evolusinya.
Setiap partner yang "habis" menambah satu bata pada benteng kekerasan hatinya. Para petinggi APE mungkin melihatnya sebagai statistik kerugian yang bisa diterima demi efektivitas tempur. Bagi para pilot lain, itu adalah bukti bahwa ia benar-benar monster. Bagi Zero Two, itu adalah pengorbanan yang diperlukan. Di kamar tidurnya yang kosong, ia tidak pernah meratapi nyawa-nyawa yang melayang. Sebaliknya, ia menghitung. "Tiga lagi," gumamnya suatu malam, menatap langit-langit. "Mungkin tiga partner lagi, dan aku akan cukup manusiawi." Ia mengingat setiap wajah dengan sengaja, bukan sebagai penyesalan, tapi sebagai pengingat akan biaya yang harus dibayar. Mereka bukan nama, mereka adalah angka. Mereka adalah tangga yang ia pijak untuk keluar dari sumur kesepian dan kekejaman eksistensinya. Kematian mereka memisahkannya dari mereka, membuktikan bahwa ia berbeda, sekaligus menjadi jalan baginya untuk mengejar kesamaan dengan Hiro. Dinding ini melindunginya dari belas kasihan yang ia anggap sebagai kelemahan. Jika ia peduli, jika ia berhenti, maka semua yang telah "dikorbankan" itu akan sia-sia. Maka, ia terus maju, dengan tatapan dingin dan senyum menusuk, sementara kabar tentang "Partner Killer" terus berbisik, membuatnya semakin terasing.
Dalam katalog panjang partner yang fana itu, ada satu kenangan yang tidak pernah pudar, justru semakin terang bagai berlian di lumpur: Hiro. Saat kecil, saat mereka tersambung bukan melalui mesin, tapi melalui buku dan janji, Hiro tidak sekarat. Tidak ada batuk, tidak ada pucat. Yang ada hanya kehangatan. Itulah bukti pertama dan terpenting baginya bahwa Hiro berbeda. Hiro bukan alat; Hiro adalah tujuannya. Dalam pikirannya yang terdistorsi oleh obsesi, hubungan itu menjadi sebab-akibat yang sederhana: jika partner lain mati karena darah Klaxosaur-nya, dan Hiro tidak mati, maka Hiro-lah satu-satunya yang bisa bertahan. Dan jika hanya Hiro yang bisa bertahan, maka hanya Hiro-lah yang pantas menjadi partner sejatinya, partner terakhirnya. Kematian semua partner lain hanyalah proses eliminasi yang brutal untuk membuktikan kebenaran mutlak ini. Setiap kali ia merasakan nyawa partner barunya memudar, hatinya justru semakin yakin: "Bukan yang ini. Yang satu ini bukan Darling-ku. Darling-ku yang sejati adalah satu-satunya yang akan bertahan, yang akan membawaku ke dunia dalam buku itu."
Menjadi "Partner Killer" adalah sebuah ritual yang terpola bagi Zero Two. Setiap pertempuran adalah pengulangan. Ia akan masuk dengan senyuman palsu, memanggil "Darling" dengan nada yang sama. Saat koneksi terjalin, ia tidak langsung menarik habis-habisan. Ia seperti seorang penyelidik, merasakan arus kehidupan partner-nya. "Bisakah kamu bertahan?" pikirnya, sebuah harapan kecil yang selalu gagal. Lalu, ketika pertarungan memanas, saat insting Klaxosaur-nya bergejolak, barulah ia melepas kendali. Sensasi kekuatan yang mengalir dari partner-nya dan berubah menjadi miliknya adalah candu. Itu adalah perasaan menjadi lebih penuh, lebih kuat, lebih dekat dengan sesuatu. Ia bisa merasakan humanitas partner itu—ketakutan, keberanian, kenangan remeh—melarut dalam dirinya, seolah-olah dengan menelan mereka, ia juga menelan sedikit dari kemanusiaan mereka. Ritual ini selalu berakhir dengan partner yang terbaring lemah, dan Zero Two yang melangkah keluar dari kokpit dengan tatapan kosong, kekuatannya bertambah, tetapi hampa di dalam. Ia tidak merasa bersalah. Ia merasa sedang membersihkan jalan.
Semuanya berubah ketika Hiro muncul kembali dalam hidupnya. Saat pertama kali menyambung dengan Hiro di Strelizia, Zero Two bersiap untuk ritual yang biasa. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Aliran itu... seimbang. Darah Klaxosaur-nya tidak melahap dengan liar. Sebaliknya, ada resonansi, sebuah saling mengisi. Hiro tidak melemah; dia tetap kuat, sadar, dan terhubung dengannya dengan sempurna. Kekacauan emosi melanda Zero Two. Di satu sisi, ini adalah konfirmasi yang ia tunggu selama ini: Ini dia. Darling-ku yang sejati. Di sisi lain, ini membingungkan seluruh logika kelam yang telah ia bangun. Jika Hiro tidak sekarat, apakah berarti kematian partner-partner sebelumnya tidak perlu? Apakah mereka mati bukan semata karena takdir darahnya, tetapi karena pilihannya untuk menggunakan mereka sebagai alat?
Pertanyaan-pertanyaan ini mulai meretakkan dindingnya. Saat Hiro, yang tidak mengetahui "kutukan"-nya, memperlakukannya dengan kelembutan dan kesetaraan, Zero Two untuk pertama kalinya dihadapkan pada konsekuensi sebenarnya dari gelar "Partner Killer". Bukan pada kekuatannya, tetapi pada kehancuran yang ia tebarkan. Dan ketika ia mulai menyadari bahwa yang ia cari—penerimaan, cinta, kemanusiaan—bisa jadi telah ada di depan matinya, tanpa perlu pengorbanan lebih banyak lagi, obsesi lamanya pun mulai goyah. Partner Killer akhirnya dihadapkan pada satu partner yang tidak bisa, dan tidak ingin, ia bunuh. Dan dalam cahaya hubungan baru ini, bayangan semua partner yang telah gugur mulai tampak lebih panjang dan lebih menakutkan daripada sebelumnya.