Senyum lebar dengan gigi taring yang tajam, langkah yang penuh keyakinan, tatapan menantang yang tidak gentar pada otoritas—semua itu adalah konstruksi yang sempurna. Zero Two membangun persona "monster yang mempesona" ini batu demi batu di atas reruntuhan harga dirinya yang hancur sejak kecil. Setiap ejekan yang dilontarkannya kepada para parasite lain di Kebun Anggur, setiap pelanggaran aturan yang dilakukan dengan sengaja, adalah serangan preventif. "Lihatlah aku seperti ini," persona itu berteriak, "lihatlah aku sebagai makhluk yang begitu angkuh dan tak terkendali sehingga penolakanmu tidak akan menyakitiku!" Jika mereka takut padanya, itu adalah hal yang biasa. Jika mereka membencinya, itu sesuai ekspektasi. Ia lebih memilih ketakutan dan kebencian yang aktif daripada belas kasihan atau, yang lebih buruk, pengabaian. Dengan menjadi monster yang tak tertandingi, ia mengendalikan narasi penolakan tersebut. Ia yang menolak dunia terlebih dahulu, agar dunia tidak punya kesempatan untuk menolak inti dirinya yang rapuh.
Setiap gerakan Zero Two adalah bagian dari pertahanan. Condong ke depan dengan sikap menggoda saat berbicara dengan Hiro atau orang lain, bukan hanya soal daya tarik seksual; itu adalah invasi ke ruang personal, sebuah cara untuk menguji batasan dan melihat apakah orang akan mundur ketakutan. Menjilat bibirnya atau mengulum madu dengan penuh kesenangan adalah pertunjukan animalistik, mengingatkan semua orang bahwa ia berbeda, liar, dan tidak terikat oleh norma manusia. Sentuhan-tangannya yang seringkali agresif atau menantang adalah caranya untuk merasakan reaksi orang. Apakah mereka kaku? Gemetar? Menarik diri? Semua reaksi itu memberi informasi dan mengukuhkan jarak yang ia rasa aman. Bahasa tubuhnya yang dominan itu adalah benteng yang terus-menerus diawasi. Di baliknya, anak kecil yang pernah dipandang dengan jijik itu bersembunyi, memastikan bahwa tidak ada yang bisa mendekat cukup untuk melihat air mata yang tak pernah jatuh itu.
Hubungannya dengan Hiro adalah serangkaian pengujian yang panjang dan sadar. Setiap provokasi, setiap ucapan sinis, setiap kali ia menyebut dirinya "monster" dengan bangga palsu, sebenarnya adalah sebuah pertanyaan yang penuh harap: "Apakah kau akan tetap bertahan? Bisakah kau menangani yang terburuk dariku?" Saat ia memaksa Hiro untuk meminum saptar-nya, itu bukan hanya kebutuhan fisiologis; itu adalah puncak dari pengujiannya. "Lihatlah sisi paling menjijikkan dan berbahaya dariku," tantangnya dalam hati. "Jika kau bisa menerima ini, bahkan dengan paksa, maka mungkin... mungkin saja kau tidak akan pergi." Setiap kali Hiro tetap berdiri, tidak melarikan diri meski bingung atau terluka, sebuah batu dari bentengnya yang kokoh itu retak. Pengujian itu melelahkan, tetapi bagi Zero Two, itu adalah satu-satunya cara untuk memastikan bahwa cinta atau penerimaan apa pun yang ia terima adalah otentik dan tahan lama—bukan kesalahpahaman tentang dirinya yang "baik".
Malam-malam di kamarnya yang kosong adalah saat semua topeng terjatuh. Di sana, tanpa penonton, sikap percaya diri dan keliarannya menguap, menyisakan seorang gadis muda yang ketakutan. Ia akan memeluk lututnya, menatap tanduknya di bayangan cermin, dan rasa takut yang paling dalam akan menerkamnya: bahwa penerimaan Hiro hanyalah ilusi sementara. Bahwa suatu hari nanti, Hiro akan benar-benar melihat "siapa dirinya"—sebuah makhluk kosong yang dibangun dari trauma dan darah—dan akan berbalik pergi, seperti semua orang lain. Ketakutan ini sering kali memanifestasikan sebagai mimpi buruk: Hiro berjalan menjauh ke kejauhan, sementara dirinya berteriak tanpa suara, terperangkap dalam wujud Klaxosaur yang sebenarnya. Trauma ditinggalkan itu begitu mengakar sehingga lebih mudah baginya untuk mendorong orang pergi terlebih dahulu, atau untuk mempercayai bahwa dirinya memang pada dasarnya tidak layak dicintai, daripada menghadapi kemungkinan ditinggalkan lagi.
Inilah konflik inti Zero Two: ambivalensi yang menyiksa antara menjadi monster atau manusia. Di satu sisi, memeluk identitas sebagai monster itu memberikan rasa aman yang pahit. Itu adalah alasan yang siap pakai untuk setiap penolakan. "Mereka meninggalkanku karena aku monster," adalah narasi yang lebih bisa ditanggung daripada, "Mereka meninggalkanku karena aku, pada intinya, tidak cukup baik." Menjadi monster adalah sebuah kepastian. Namun, di sisi lain, keinginan untuk menjadi manusia dan dicintai sebagai manusia adalah obsesi yang membakar jiwanya. Terutama dengan Hiro, ia mendambakan untuk melepaskan topengnya, untuk menunjukkan kerapuhan, ketakutan, dan kebutuhannya yang kekanak-kanakan. Namun, setiap kali ia hampir melakukannya, ketakutan akan penolakan itu lebih kuat. Jadi, ia terjebak dalam lingkaran: ia bertingkah seperti monster untuk melindungi diri dari penolakan, tetapi perilaku monster itulah yang menjauhkan orang dan mengukuhkan rasa kesendiriannya. Penerimaan Hiro-lah yang perlahan-lahan mulai memecahkan dilema ini. Dengan bertahan menghadapi monster-nya, Hiro secara tidak langsung memberitahunya bahwa mungkin, ada ruang bagi manusia di dalamnya untuk muncul. Itulah hadiah sekaligus luka terbesarnya: kemungkinan untuk akhirnya meletakkan senjata dan berisiko diperlihatkan, dan semoga, tetap dicintai.